Tuesday, July 19, 2011

Syukur dan Sabar

Dalam kesibukan diri melayari bahtera kehidupan ini, banyak dugaan dan cabaran yang kita temui, mungkin ada cabaran yang berjaya kita harungi, dan ada yang sebaliknya.

Cuma hakikatnya, kita sebagai manusia memang tidak lepas dari menghadapi dugaan ini.

Para ulama' dan ahli ibadah zaman dahulu mengklasifikasikan ujian yang diterima oleh seseorang itu adalah mahar yang akan dijadikan saksi ketika hari yang tiada saksi melainkan amalan yang soleh, ia juga dianggap sebagai sebuah nikmat kerana bagi mereka Allah masih menerima amalan dan masih melihat mereka.

Bagaimana keadaan ini boleh berlaku?

Sifat Syukur

Syukur adalah satu sifat yang sangat penting di dalam diri seseorang.

Tanpa syukur, seorang manusia itu akan lupa daratan dan sentiasa merasakan diri merekalah yang sebenarnya sempurna dan berkuasa.

Lihat sahaja kepada contoh golongan yang tidak bersyukur yang telah dinukilkan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran sebagai iktibar kepada hambanya.

Firaun Dan Pengikutnya

Firaun adalah seorang raja yang telah diberikan keistimewaan oleh Allah SWT dengan tidak pernah jatuh sakit sepanjang hidupnya. Di samping itu juga, dia diberikan sebuah kerajaan yang sagat besar dan kuat iaitu kerajaan mesir ketika itu.

Tetapi malangnya, firaun menjadi sombong dan lupa diri.

Oleh kerana keistimewaanya itu, dia merasakan dirinya adalah Tuhan yang patut disembah - dia menyuruh seluruh rakyatnya menyembah dirinya.

Sehinggakan Allah SWT mengutuskan Nabi Musa a.s. untuk menjadi petunjuk ke atas rakyat yang telah dizalimi tadi.

Allah SWT juga memberi balasan yang setimpal ke atas perbuatan angkuh firaun itu dengan menenggelamkan dia di laut merah sewaktu cuba membunuh Nabi Musa a.s.

Begitu juga yang terjadi ke atas Haman; perdana menteri yang dilantik ketika pemerintahan firaun.

Dia banyak menghabiskan duit rakyat dan sentiasa mengampu firaun dengan kata-kata manis untuk mengekalkan kedudukannya selaku perdana menteri; orang yang kedua tertinggi dalam kerajaan firaun laknatullah.

Kisah Raja Namrud

Raja Namrud juga salah satu contoh manusia yang tidak bersyukur atas pemberian Ilahi, bukan sahaja bersifat angkuh tetapi dia mahu membakarnya hidup-hidup Nabi Ibrahim a.s. yang diutuskan oleh Allah ke atas kaum mereka.

Namun dengan sifat kasih sayang Allah SWT, api yang sepatutnya bersifat panas dan membakar menjadi dingin dan selamat untuk Nabi Ibrahim a.s. dan Namrud pula akhirnya dimusnahkan dengan dihantar seekor nyamuk yang masuk ke dalam kepalanya untuk memakan otaknya.

Manusia Yang Paling Sabar

Nabi Ayub dikurniakan kesempurnaan kehidupan oleh Allah SWT. Baginda dikurniakan harta yang banyak dan keluarga yang bahagia, tetapi kuasa Allah SWT lebih hebat apabila menguji baginda dengan menarik sedikit demi sedikit nikmat yang telah dikurniakan-Nya kepada Nabi Ayub.

Ia bermula dengan harta yang semakin berkurangan, anak-anak yang meninggal dunia dan seterusnya dengan penyakit sopak yang menjijikkan.

Mengenai pelbagai ujian itu Allah SWT berfirman, maksudnya:

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cubaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang yang sabar, iaitu orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali'."

Walaupun diuji dangan begitu hebat sekali, beliau masih tetap percaya Allah SWT ada menyelitkan hikmah disebalik kedukaan ujian yang melandanya.

Akhirnya dengan sifat kesempurnaan Allah, segala ujian yang diberikan digantikan semula dengan kegembiraan dan Nabi Ayub a.s. dinaikkan darjat sebagai orang yang bersabar di atas ujian yang menimpa.

Jesteru ayuh sahabat sekalian, majulah dalam menempuh ujian hidup ini kerana ada sesuatu yang manis sedang menunggu kita.

Ingatkan teman yang lain dan ingatkan diri kita sendiri.

Moga Allah memberi taufiq ke atas diri kita dan dikurniakan kejayaan diatas amalan yang dilakukan.

"Ya Allah jangan Kau uji kami dangan ujian yang tidak tertanggung oleh kami, sesungguhnya kami hambaMu yang daif dan lemah."

"Tanpa keberanian, mimpi takkan bermakna."

"Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan.

Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati."

Monday, May 16, 2011

BAHANA FITNAH

Makna Fitnah dalam Al Qur’an

Dalam Al Qur’an, hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan istilah Islam sendiri, fitmah itu memiliki segudang makna. Makna kata itu dalam satu ayat, terkadang sangat berbeda dengan maknanya dalam ayat lain.

a. Fitnah, Bermakna kekafiran

Terkadang makna fitnah adalah kekafiran atau kemusyrikan, seperti dalam friman Allah Ta’ala,

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al Baqarah: 217)

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 193)

Kata fitnah disini menurut para ulama Ahli tafsir adalah ‘kekafiran’ atau ‘kemusyrikan’. Yakni bahwa mereka itu menyebarkan kekafiran. Sementara sebagian kaum muslimin –karena belum diberitahu oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam-, melakukan kekeliruan dengan memerangi kaum musyrik di bulan suci. Perbuatan mereka itu keliru, dalam arti tidak pantas. Tapi kekafiran kaum musyrik itu lebig besar bahayanya daripada kekeliruan berperang di bulan suci. Itulah makna yang jelas dari ayat tersebut.

Tapi semenjak dahulu, umumnya para juru dakwah di tanah air, saat menyampaikan ayat ini, tidak menjelaskan kata fitnah dalam ayat. Sehingga kebanyakan masyarakat Islam mengidentikkan makna fitnah tersebut. Seperti dalam kosakata bahasa kita, yaitu menuduh tanpa bukti. Akhrinya tersebarlah makna,”fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”, yakni bahwa menuduh orang tanpa bukti. Lebih besar dosanya daripada membunuh!

Ini jelas salah kaprah. Dan karena kasu-kasus seperti ini, saya sering menyampaikan pesan kepada juru dakwah, agar berhati-hati dalam menyampaikan kata-kata bahasa Arab dalam dakwah, tanpa diterjemahkan. Karena khawatir akan timbul kesalahpahaman atau ketidakmengertian di kalangan para pendengar dakwah, yang umumnya adalah masyarakat awam yang tidak mengerti bahasa Arab.


b. Fitnah, bermakna Musibah/Bencana

“Apbila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian sukai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Kalau tidak, akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar di muka bumi.”

Bila seorang juru dakwah mengatakan, “Nikahkanlah putri Anda dengan pemuda shalih dan berakhlak baik, agar tidak terjadi fitnah.” Artinya tidak terjadi bencana dan kerusakan.


c. Fitnah, bermakna Konflik

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7)

Ada diantara sebagian orang Islam yang mendewakan rasio, di mana mereka gemar mencari penafsiran ayat melalui logika, sehingga melenceng dari tafsir yang sesungguhnya. Tujuan mereka semata-mata menyebar fitnah, yakni mencari konflik dan perselisihan dengan sesama muslim.


d. Fitnah, bermakna Kedustaan (Kericuhan)

“Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah” (Al An’am: 23)

Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucapan mereka yang berlumur kedustaan, untuk membela diri mereka di hadapan Allah. Padahal Allah mengetahui hakikat mereka, dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka.


e. Fitnah, bermakna Kebinasaan

“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir” (At Taubah: 49)

Yakni bahwa kaum munafik di masa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam akan membawa kepada kebinasaan semata. Padahal. Sesungguhnya mereka sudah berada dalam kebinasaan itu sendiri. Yakni dalam kemunafikan, yang akan membinasakan diri mereka di akhirat kelak, dalam kerak nerka jahannam.


f. Fitnah, bermakna Korban Kezhaliman

“Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami. janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim” (Ynus: 85)

Yakni doa kaum beriman, agar mereka tidak dijadikan sebagai fitnah, dalam arti sasaran kazhaliman, kesewenang-wenangan orang-orang yang suka berbuat zhalim. Sebagaimana doa yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam,

“Ya Allah, janganlah Engkau beri kekuasaan orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami, untuk menzhalimi kami, akibat dosa-dosa kami…”


g. Fitnah, bermakna “Gangguan”

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah . Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al Ankabut: 10)

Dalam ayat ini, kata fitnah berarti ganguan. Fitnah mereka, yaitu gangguan atau sikap usil mereka.


h. Fitnah, bermakna Godaan

Ini termasuk makna fitnah yang paling sering digunakan dalam bahasa syariat. Fitnah kaum wanita, yakni godaan mereka. Seperti diperingatkan oleh Nabi shalallahu’alaihi wassalam,

“Peliharalah diri kalian dari bahaya dunia dan wanita. Karena fitrah (bencana) yang pertama kali menimpa Bani Israil adalh wanita.” (HR muslim)

Dalam hadits, Nabi juga menegaskan bahwa godaan (fitnah) terberat bagi kaum lelaki adalah wanita.

Yakni bahwa wanita secara fitrah memang memiliki aurat yang menggoda kaum pria. Oleh sebab itu, Islam memerintahkan kaum wanita muslimah agar mengenakan hijab yang menutupi sekujur auratnya, agar setidaknya dapat meminimalisir aura fitnah atau godaan yang memancar dari dirinya.

Wednesday, March 30, 2011

MATIKU HIDUPKU HANYA PADAMU YA ALLAH

Ada manusia, rasa ditinggalkan Allah SWT.

Dia merasakan, Allah telah berpaling daripadanya. Hidupnya sentiasa sukar, dan kesenangannya tidak pernah lama. Derita, derita dan derita sahaja yang diterimanya. Bila dia merasakan dia baru sahaja bahagia, akan datang pula satu lagi cabaran yang menggegarkan kehidupannya.

Akhirnya dia kelelahan. Kekuatannya kontang. Lantas dia merosot jatuh, terlutut dengan tangisan. Rasa tidak berguna lagi kehidupan. Rasa lebih baik dirinya dijemput kematian segera. Kerana dia kini benar-benar rasa tidak berkemampuan. Derita yang sangat derita, dan kini dia tidak lagi mampu bertahan.

Tetapi, benarkah Allah meninggalkan?


Kebersihan iman

Keimanan adalah keyakinan. Sekiranya iman kita bersih, maka kita akan kekal yakin kepada Allah SWT. Sebab itu kita mampu mengikuti syariatNya, perintahNya, walaupun kadangkala macam sedikit sukar dan membebankan.

Orang Nasrani sekadar ke gereja seminggu sekali, kita perlu solat lima kali sehari. Agama lain kalau puasa sekejap sahaja, kita pula perlu menjalani ibadah puasa 30 hari lamanya. Perempuan lain pakai apa yang mereka suka, Islam ketat mengarahkan wanitanya menutup aurat dan hanya boleh mendedahkan muka dan kedua telapak tangan sahaja.

Keimanan, adalah apa yang memampukan kita melakukan semua itu. Kalau diikutkan kewarasan akal biasa, mungkin kita awal-awal lagi sudah mencerca Allah SWT kerana mengarahkan perkara-perkara yang sedemikian. Tetapi keimanan adalah apa yang meningkatkan kewarasan akal kita dari biasa, kepada luar biasa. Hingga kita faham bahawa, Allah tidak akan memberikan kita perkara yang sia-sia. Semua itu pasti ada hikmahnya. Itulah dia kewarasan kita. Bukan maddi(material) semata-mata.

Jadi, keimanan yang bersih akan membawa kepada kefahaman bahawa segala dugaan dan cabaran, halangan dan kesukaran, semuanya adalah pemberian Allah SWT. Dan msutahil Allah memberikannya sekadar untuk bermain-main dengan kita.

Ada tujuan.

Dan itu adalah bukti, ujian dan halangan, kesukaran dan cabaran, bukanlah petanda Allah meninggalkan kita. Bahkan, sebaliknya. Kita boleh melihat, itulah tanda Allah ‘sedang memandang’ kita.

Tujuan ujian

Kita kembali kepada Allah SWT, dalam tujuanNya menurunkan cabaran dan kesukaran.

“Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: Kami beriman, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)? Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu daripada mereka, maka (dengan ujian yang demikian), nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang sebenar-benarnya beriman, dan nyata pula apa yang diketahuiNya tentang orang-orang yang berdusta.” Surah Al-Ankabut ayat 2-3.

Nyata, tujuan ujian hakikatnya adalah ‘tapisan’. Dunia bukan pentas penerimaan hadiah di mana kita mendapat natijah. Tetapi dunia hakikatnya adalah pentas pertandingan, untuk menguji ‘peserta-peserta’ di dalamnya. Pentas penerimaan hadiah adalah di akhirat sana.

Dan ujian bukan semata-mata ‘tapisan’, tetapi ujian juga datang sebagai ‘pembalasan’ ataupun ‘pembersihan’ ataupun ‘peringatan’.

“Telah timbul berbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) kerana Allah hendak merasakan mereka sebahagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat).” Surah Ar-Ruum ayat 41.

Jadi, ayat di atas jelas menunjukkan betapa kadangkala bala yang menimpa itu, hakikatnya adalah akibat daripada perbuatan kita. Ini termasuklah dosa-dosa yang kita lakukan. Ada sebahagian manusia itu, Allah hapuskan terus bila diturunkan bala ke atas mereka. Sebagai contoh, Kaum Nuh yang majoritinya tenggelam lemas dalam banjir besar. Tetapi wujud sebahagian yang lain, Allah hidupkan selepas menerima ujian, ataupun ujian itu diciptakan memang untuk tidak menghilangkan nyawanya, bertujuan memberikannya ‘tamparan peringatan’ akan keadaan dirinya.

Ujian juga, hakikatnya adalah satu bentuk ‘panggilan’ Allah SWT, agar hamba-hambaNya yang selama ini alpa, merapat kepadaNya. Lihatlah firman Allah SWT:

“Dan apabila mereka dirempuh serta diliputi oleh ombak yang besar seperti kelompok-kelompok awan menyerkup, pada saat itu mereka semua berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan kepercayaan mereka kepadaNya semata-mata. Kemudian bila sahaja Allah menyelamatkan mereka ke darat maka sebahagian sahaja di antara mereka yang bersikap adil (lalu bersyukur kepada Allah serta mengesakanNya). Dan sememangnya tiada yang mengingkari bukti-bukti kemurahan Kami melainkan tiap-tiap orang yang bersifat pemungkir janji, lagi amat tidak mengenang budi.” Surah Luqman ayat 32.

Jelas bukan? Ujian daripada Allah itu, nyata bukan kosong. Tetapi ada tujuannya. Mustahil sia-sia.

Allah bukan tidak menjawab, tetapi Dia Maha Tahu bila hendak menjawab

Lama bertahan kadangkala membuatkan kita kecewa. Lebih menyakitkan hati, apabila kita cuba meluahkan penderitaan kita, orang lain hanya tahu menyatakan sabar sahaja. Sedangkan yang kita perlu adalah ‘tindakan’, bukan sekadar bicara-perkataan.

Tetapi apabila kita balik kepada hakikat ujian tadi, dan tujuannya, bukankah hati sudah sedikit tenang? Nyata di dalam ujian itu juga yang ada hanyalah kebaikan-kebaikan sahaja.

“Yalah, aku faham semua itu, tetapi aku manusia.”

Ya, saya faham. Saya juga manusia. Sebab itulah saya bermula dengan kebersihan iman, dan mengajak kita memahami hakikat ujian. Sebab saya sendiri pernah gugur dan jatuh. Bukan sekali dua, bahkan berkali-kali. Tersungkur, saat-saat merasakan diri ini ditinggalkan. Pernah hendak cuba menjerit ke langit dan memarahi Allah, pernah juga terfikir untuk merajuk dengan dunia dan menghentikan kehidupan. Saya pernah bersedih hingga ke tahap itu. Dan saya yakin, esok lusa akan ada lagi ujian-ujian yang lebih hebat dari yang pernah saya lalui, yang akan membuatkan saya terlutut semula.

Tetapi, ada kelainan apabila kita memahami apakah itu ujian? Mengapakah diturunkan ujian? Apakah tujuan ujian? Ada perbezaannya apabila kita memahaminya. Apatah lagi apabila kita punya keyakinan terhadap Tuan Punya Ujian.

Akhirnya, lama-kelamaan, saya melihat bahawa putus asa itu sebenarnya berlawanan dengan kewarasan akal. Akhirnya saya berjaya melihat bahawa, menjerit ke langit itu berlawanan dengan kewarasan akal. Begitu juga merajuk dengan dunia dan menghentikan kehidupan. Sebab sebenarnya, kita ada satu lagi pilihan. Itulah dia terus bertahan.

Allah bukan tidak menjawab segala doa, segala solat hajat, segala aduan, segala permintaan. Dia Maha Mendengar, dan tiada tempat pengaduan yang lebih baik daripada Dia. Tinggal, Dia itu juga bukan sekadar Maha Mendengar, bukan sekadar Maha Pemakbul Doa, tetapi Dia juga adalah Yang Maha Tahu Atas Segala-galanya. Dia Maha Tahu bilakah waktu yang sesuai untuk menjawab doa kita, untuk memakbulkan permintaan kita. Dia Maha Tahu kemampuan kita, sampai bilakah kita mampu bertahan. Dia Maha Tahu, apakah manfaatnya ujian yang Dia turunkan kepada kita.

Sebab itu, lihatlah firman-firmanNya berkenaan dengan ‘kelewatan’ pertolonganNya. Semua punya bonus.

“Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum sampai kepada kamu (ujian dan cubaan) seperti yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu daripada kamu? Mereka telah ditimpa kepapaan (kemusnahan hartabenda) dan serangan penyakit, serta digoncangkan (oleh ancaman bahaya musuh), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang ada bersamanya: Bilakah (datangnya) pertolongan Allah? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat (asalkan kamu bersabar dan berpegang teguh kepada ugama Allah).” Surah Al-Baqarah ayat 214.

Bagaimana agaknya, orang-orang yang teruji, sampai rasa tidak punya lagi harapan, dan pada saat itu sampailah pertolongan yang selama ini diharapkan? Bukankah kekuatannya akan lebih tertingkat? Bukankah dia akan menjadi yang lebih bersyukur? Bukankah keimanannya akan melonjak?

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan dalam banyak medan-medan perang dan di medan perang Hunain, iaitu semasa kamu merasa megah dengan sebab bilangan kamu yang ramai; maka bilangan yang ramai itu tidak mendatangkan faedah kepada kamu sedikitpun; dan (semasa kamu merasa) bumi yang luas itu menjadi sempit kepada kamu; kemudian kamu berpaling undur melarikan diri. Kemudian Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan tentera yang kamu tidak melihatnya, serta Ia menyeksa orang-orang kafir itu (dengan kekalahan yang membawa kehancuran); dan yang demikian itu ialah balasan bagi orang-orang yang kafir.” Surah At-Taubah ayat 25-26.

Saat-saat sebahagian manusia telah berputus asa dan berundur, dan sebahagian lain pula kekal bertahan dalam keadaan kekalahan, bukankah apabila Allah turunkan pertolongan pada saat itu akan berlakunya peningkatan terhadap yang kekal percaya? Bukankah telah tertapis daripada golongan pejuang itu mereka yang benar-benar ikhlas memperjuangkan agama Allah?

Sebab itu, Allah Maha Tahu bilakah hendak menjawab doa-doa hambaNya.

Dia tahu waktu dan ketikanya.

Yang tinggal adalah kita. Apakah mahu kekal bertahan dan percaya? Atau mengalah, menjadi yang rugi selama-lamanya?

Penutup: Dan ada orang itu, kekal teruji hingga ke akhirnya.

Ada di dalam sejarah, manusia-manusia yang mati dalam keadaan tidak mencapai kemenangan perjuangannya. Seperti Nabi Yahya yang dipenggal kepalanya, seperti Nabi Zakaria yang dibelah tubuhnya, seperti tuk guru kepada remaja dalam cerita Ashabul Ukhdud yang di kerat dua dari kepalanya, seperti Khubaib ibn ‘Adi RA yang mati dilapah-lapah Abu Jahal jasadnya, seperti Mus’ab bin Umair RA yang mati kudung kedua belah tangannya, seperti Anas bin Nadhr RA yang mati dengan 80 tusukan pada jasadnya hingga wajahnya tidak dikenali sesiapa kecuali adiknya yang mampu mengenalinya dari cincin di jarinya, seperti Hamzah RA yang mati dimamah jantungnya, dan seperti ramai lagi manusia yang telah berlalu di zaman ini(Asy-Syahid Hassan Al-Banna, Asy-Syahid Syed Qutb) dan juga zaman terdahulu yang mati sebelum menikmati kesenangan hidup.

Apakah Allah tidak menjawab doa mereka?

Tidak. Allah menjawab doa mereka. Dengan syurgaNya.

“Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan rasulNya, serta kamu berjuang membela dan menegakkan ugama Allah dengan harta benda dan diri kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu hendak mengetahui (hakikat yang sebenarnya). (Dengan itu) Allah akan mengampunkan dosa-dosa kamu, dan memasukkan kamu ke dalam taman-taman yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, serta ditempatkan kamu di tempat-tempat tinggal yang baik dalam Syurga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar.” Surah As-Saff ayat 11-12.

Mereka adalah bukti-bukti, buat mereka yang kini teruji dan hampir hilang percaya.

Jadi bagaimanakah kita?

Apakah benar Allah meninggalkan kita?

Hakikatnya, Allah itu tidak pernah meninggalkan hamba-hambaNya.

Tetapi hamba-hambaNyalah yang sering meninggalkan Dia.

Kita ini ingin tergolong dari kalangan mana?

Yang percaya? Atau yang meninggalkanNya?

Sunday, February 27, 2011

SHIFAT SALAM RASULULLAH



Segala puji bagi Allah semata dan shalawat serta salam semoga sentiasa dicurahkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tiada Nabi setelahnya.

Sesungguhnya salam itu merupakan sunnah terdahulu sejak zaman Nabi Adam ‘alaihi salam sehingga ke hari kiamat, dan salam merupakan ucapan para penghuni syurga, Dan ucapan mereka di dalamnya adalah salam. Salam merupakan sunnah para Nabi, tabiat orang-orang yang bertakwa dan semboyan orang-orang yang suci. Namun, dewasa ini, benar-benar telah terjadi kekejian yang nyata dan perpecahan yang terang di tengah-tengah kaum muslimin! Jikalau engkau melihat mereka, ada saudara semuslim yang melintasi mereka, mereka tidak mengucapkan salam kepadanya. Sebahagian lagi hanya mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalinya sahaja, bahkan mereka merasa aneh ketika ada orang yang tidak dikenalinya memberi salam kepadanya, mereka mengingkarinya dengan menyatakan “Apakah anda mengenali saya?”.

Sedangkan yang sedemikian itu merupakan penyelisihan terhadap perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga menyebabkan semakin menjauhnya hati-hati mereka, semakin merebaknya perangai-perangai kasar dan semakin bertambahnya perpecahan. Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah kalian akan masuk syurga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian dikatakan beriman sehingga kalian saling mencintai. Mahukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mengamalkannya nescaya kalian akan saling mencintai, iaitu tebarkan salam di antara kalian.” (HR Muslim).

Di dalam hadits Muttafaq ‘alaihi, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam bagaimanakah yang baik?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali mahupun yang tidak engkau kenali.” (Muttafaq ‘alaihi).

Maka yang demikian ini merupakan suatu anjuran untuk menyebarkan salam di tengah-tengah kaum muslimin, dan bahawasanya salam itu tidaklah terbatas kepada orang yang engkau kenali dan sahabat-sahabatmu sahaja, namun untuk keseluruhan kaum muslimin.

Adalah Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhu pergi ke pasar pada pagi hari dan berkata : “Sesungguhnya kami pergi bertolak pada pagi hari adalah untuk menyebarkan salam, maka kami mengucapkan salam kepada siapa saja yang kami jumpai.”

Salam itu menunjukkan ketawadhu’an seorang muslim, ia juga menunjukkan kecintaan kepada saudaranya yang lain. Salam menggambarkan akan kebersihan hatinya daripada dengki, dendam, kebencian, kesombongan dan rasa memandang rendah kepada orang lain. Salam merupakan hak kaum muslimin antara satu dengan lainnya, ia merupakan sebab tercapainya rasa saling mengenali, bertautnya hati dan bertambahnya rasa kasih sayang serta kecintaan. Ia juga merupakan sebab diperolehnya kebaikan dan sebab untuk seseorang masuk syurga. Menyebarkan salam adalah salah satu bentuk menghidupkan sunnah Mustofa Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Lima perkara yang wajib bagi seorang muslim ke atas saudaranya, menjawab salam, mendo’akan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan menghantarkan jenazah.” (HR Muslim).

Wajib bagi sesiapa yang diberi salam menjawab dengan jawapan yang serupa sebagai bentuk ittiba’ terhadap perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abi Sa’id Al-Khudriy Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jauhilah oleh duduk-duduk di pinggir jalan!” mereka berkata, “Ya Rasulallah, kami tidak boleh meninggalkan majlis kami ini dan juga bercakap-cakap di dalamnya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau enggan meninggalkannya, maka berilah haknya jalan.” Mereka berkata, “Apakah haknya jalan itu wahai Rasulullah?” menjawab Rasulullah, “Mennundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam serta amar ma’ruf nahi munkar.” (Muttafaq ‘alaihi).

Imam Nawawi Rahimahullah berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya memulai salam itu adalah sunnah, dan membalasnya adalah wajib. Jika si pemberi salam itu jumlahnya ramai, maka yang demikian ini merupakan sunnah kifayah ke atas mereka, maksudnya jika sebahagian telah mengucapkan salam bererti mereka telah melaksanakan sunnah salam atas hak keseluruhan mereka. Jika yang diberi salam seorang diri, maka wajib ke atasnya menjawabnya. Jika yang diberi salam ramai, maka menjawabnya adalah fardhu kifayah atas hak mereka, maksudnya jika salah seorang daripada mereka telah menjawabnya maka gugurlah kewajipan bagi yang lainnya. Namun, yang lebih utama adalah memulai memberi salam secara bersama-sama dan menjawabnya dengan bersamaan pula.”


SIFAT SALAM

Berkata Imam Nawawi, “Ucapan salam minima dengan perkataan ‘assalamu’alaikum’, jika yang diberi salam seorang diri, maka minima dia mengucapkan ‘assalamu’alaika’, namun adalah lebih utama jika dia mengucapkannya dengan ‘assalamu’alaikum’, kerana kalimat ini mencakupi do’a bagi dirinya dan yang bersamanya (malaikat, pent.). Dan alangkah sempurna lagi dia menambahkan ‘warohmatullahi’ dan ‘wabarokatuh’, walaupun sebenarnya kalimat ‘assalamu’alaikum’ telah mencukupi.”


MENJAWAB SALAM

Imam Nawawi berkata, “Adapun cara membalas salam, lebih utama dan lebih sempurna jika mengucapkan ‘wa’alaikum as-Salam wa rohmatullahi wa barokatuh’, dengan menambahkan huruf ‘waw’ (yang mendahului kata ‘alaikum) ataupun tidak menggunakannya (membuangnya), hal ini diperbolehkan namun meninggalkan keutamaan. Adapun meringkaskannya menjadi ‘wa’alaikumus salam’ atau ‘alaikumus salam’ sahaja sudah mencukupi. Sedangkan meringkaskannya menjadi ‘alaikum’ sahaja, menurut kesepakatan ulama’ tidaklah mencukupi, demikian pula dengan ‘wa’alaikum’ sahaja yang diawali dengan huruf ‘waw’.


TINGKATAN SALAM

Salam memiliki 3 tingkatan, tingkatan yang paling tinggi, paling sempurna dan paling utama adalah ‘Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh’, kemudian yang lebih rendah daripadanya ucapan ‘assalamu’alaikum warohmatullah’ dan terakhir yang paling rendah adalah ‘assalamu’alaikum’. Seseorang yang mengucapkan salam (Musallim), boleh jadi mendapatkan ganjaran yang sempurna dan boleh jadi mendapatkan ganjaran di bawahnya, sesuai dengan salam yang dia ucapkan.” Hal ini sesuai dengan kisah tentang seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid dan saat itu Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya sedang duduk-duduk, berkata lelaki tadi, “Assalamu’alaikum”, maka Nabi menjawab, “wa’alaikumus salam, sepuluh atasmu”, kemudian masuk lelaki lain dan berkata, “Assalamu’alaikum warohmatullah”, Rasulullah menjawab, “Wa’alaikumus Salam warohmatullah, dua puluh atasmu”. Tidak lama kemudian datang lagi seorang lelaki sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum warohmaatullahi wabarokatuh”, maka jawab Rasulullah, “Wa’alaikumus Salam warohmatullahi wabarokatuh, tiga puluh atasmu”. (HR Abu Dawud dan Turmudzi), yang dimaksudkan adalah sepuluh, dua puluh dan tiga puluh kebaikan.


ADAB-ADAB SALAM

1. Disunnahkan tatkala bertemu dua jenis orang di jalan, iaitu orang yang berkenderaan supaya memberi salam kepada yang berjalan kaki, yang sedikit kepada yang ramai dan yang muda kepada yang tua. Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Hendaklah salam bagi yang berkenderaan kepada pejalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang ramai.” (HR. Muslim).

2. Sayogiyanya orang yang hendak memberikan salam kepada kaum muslimin dengan mengucapkan salam dan bukan dengan ucapan ‘selamat pagi’ atau ‘selamat datang’ ataupun ‘hello’, hendak dia memulainya dengan salam kemudian baru dia boleh menyambutnya dengan sapaan yang diperbolehkan di dalam Islam.

3. Disukai bagi seorang muslim yang akan masuk ke rumahnya, mengucapkan salam terlebih dahulu, kerana sesungguhnya berkah itu turun beserta salam, bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika engkau hendak masuk ke rumahmu, hendaklah engkau salam, nescaya berkah akan turun kepadamu dan keluargamu.” (HR Turmudzi). “Dan jika tidak ada seorangpun di dalamnya, maka ucapkan, Assalamu’alainaa ‘ibaadillahish shaalihin.” (HR Muslim).

4. Sayogiyanya mengucapkan salam itu dengan suara yang dapat didengar namun tidak mengganggu orang yang mendengar dan membangunkan orang yang tidur. Dari Miqdad Radhiallahu ‘anhu berkata : “Kami mengangkat untuk Nabi bahagiannya daripada susu, dan beliau tiba saat malam, mengucapkan salam dengan suara yang tidak membangunkan orang yang tidur dan dapat didengar oleh orang yang jaga.” (HR Muslim).

5. Dianjurkan untuk memberikan salam dan mengulanginya lagi jika terpisah daripada saudaranya, walaupun hanya dipisahkan oleh tembok. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Jika seseorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, hendaklah dia memberinya salam, dan jika terpisah antara keduanya oleh pohon, tembok ataupun batu besar lalu bertemu kembali, hendakla kalian mengucapkan salam lagi kepadanya.” (HR Abu Dawud).

6. Ramai ulama’ memperbolehkan seorang lelaki mengucapkan salam kepada seorang wanita, dan sebaliknya, selama aman daripada fitnah, sebagaimana seorang wanita mengucapkan salam kepada mahramnya, maka wajib juga atasnya untuk menjawab salam daripada mereka. Demikian halnya seorang laki-laki kepada mahramnya wajib atasnya menjawab salam dari mereka. Jika dia seorang ajnabiyah (wanita bukan mahram), maka tidaklah mengapa mengucapkan salam kepadanya ataupun membalas salamnya jika wanita tersebut yang mengucapkan salam, selama aman daripada fitnah, dengan syarat tanpa bersentuhan tangan/jabat tangan dan mendayu-dayukan suara.

7. Daripada hal-hal yang tersebar di kalangan manusia adalah menjadikan salam itu berbentuk isyarat atau memberi tanda dengan tangan. Jika seseorang yang mengucapkan salam itu jauh, maka mengucapkan salam sambil memberikan isyarat tidaklah mengapa, selama dia tidak dapat mendengarmu, kerana isyarat ketika itu menjadi penunjuk salam dan tidak ada pengganti selainnya, juga demikian dalam membalasnya.

8. Dianjurkan bagi orang yang duduk mengucapkan salam ketika dia hendak berdiri di dalam majlisnya. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika kalian mendatangi suatu majlis hendaklah memberi salam, dan jika hendak berdiri seyogiyanya juga memberi salam, dan tidaklah yang pertama itu lebih berhak daripada yang terakhir”. (HR. Abu Dawud)

9. Disunnahkan berjabat tangan ketika memberi salam dan memberikan tangannya kepada saudaranya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah bertemu dua orang muslim kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosanya sebelum berpisah”. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

10. Menunjukkan wajah yang ceria, bermanis muka dan tersenyum ketika salam. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Senyummu kepada saudaramu itu sedekah”, dan sabdanya pula “Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun hanya bermanis muka terhadap saudaramu”. (HR. Muslim)

11. Disunnahkan memberi salam kepada anak-anak sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sentiasa melakukannya, dan yang demikian ini adalah suatu hal yang menggembirakan mereka, menanamkan rasa percaya diri dan menumbuhkan semangat menuntut ilmu di dalam hati mereka.

12. Tidak diperbolehkan memulai salam kepada orang kafir sebagaimana di dalam sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah mendahului Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam, jika engkau menemui salah seorang daripada mereka di jalan, desaklah hingga mereka menepi dari jalan”. (HR. Muslim) dan bersabda pula Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika ahli kitab memberi salam kepadamu maka jawablah dengan wa’alaikum” (mutafaq alaihi).

Maka hidupkanlah, wahai hamba Allah sunnah yang agung ini di tengah-tengah kaum muslimin agar lebih mempereratkan hati-hati kalian dan menyatukan jiwa-jiwa kalian serta untuk meraih ganjaran dan pahala di sisi Allah. Semoga salam dan shalawat senantiasa tercurahkan atas Nabi, keluarga baginda dan shahabat-shahabat baginda seluruhnya. Amin..

Friday, February 18, 2011

Hanya Kepada Allah Kita Berserah

Putera-puteri harapan ummah yang dkasihi sekalian. Marilah kita melihat satu hakikat yang sangat besar dalam kehidupan, iaitu kita adalah para hamba yang faqir yang sangat-sangat memerlukan Allah SWT sedangkan Allah SWT adalah al Ghani, Yang Maha Kaya, yang tidak punya keperluan apa-apa.

Manusia hari ini majoritinya sangat jauh dari Allah sehingga tidak merasakan keperluan untuk menghubungkan diri dengan Allah. Mereka amat bergantung kepada makhluk yang sangat lemah tetapi terputus dari Allah Yang Maha Kuat.

Kita memerlukan Allah dalam urusan yang kita amat jahil, maka kita memerlukan hidayah dan petunjuk Allah

Kita memerlukan Allah dalam urusan yang kita punya pengetahuan tetapi tidak mampu untuk mengamalkannya. Maka kita perlu memohon keampunan serta bertaubat dari kelemahan dan kelalaian kita

Kita perlu sentiasa diperingatkan bahawa kita sangat perlu kekuatan dan bimbingan Allah untuk meninggalkan 'zhulumat' kegelapan jahiliyyah dalam masuk secara total ke dalam cahaya petunjuk Allah. Kita perlu ingat bahawa bila kita diseru untuk mentauhidkan Allah, berubudiyyah kepada Allah serta mentaati-Nya, Maha Suci Allah dari sebarang keperluan dan Allah Maha Agung dan Maha Besar, tidak memerlukan semua itu. Allah tidak sekali-kali memerlukan kita dan pengorbanan dan jihad kita. Kesemua itu adalah keperluan kita.

Sekiranya kita lalai atau enggan menunaikan hak-hak Allah yang telah ditentukan ke atas kita, maka Allah Maha Berkuasa dengan mudah untuk mencipta dan memilih kelompok baru untuk berubudiyyah kepada-Nya dan berjuang untuk menegakkan Deen-Nya.

Anak-anak yang dikasihi, marilah kita memohon dengan penuh rendah diri kepada Allah SWT agar dikurniakan dalam hati-hati kita rasa sangat berhajat kepada Allah SWT, khususnya keperluan kita agar hati kita dapat terus hidup dan mampu menghilangkan bahan-bahan cemar hati, rawasib , yang melumpuhkan dan mematikan hati. Hanya Allah sumber pertolongan dan perlindungan bagi kita.

Monday, January 24, 2011

UJIAN DAN MUSIBAH : ALLAH S.W.T MAHU BERKENALAN DENGAN HAMBA-HAMBA NYA

Setiap manusia, pasti melalui suatu masa yang dikenali dengan MUSIBAH atau masa KESULITAN. Kehidupan seseorang manusia tidak terlepas dari kesusahan, kesulitan, musibah dan sebagainya. Kadang kala, ia menyebabkan seseorang putus-asa dan ada juga yang sampai sanggup untuk membunuh diri dan sebagainya, hasil dari kekecewaan yang menimpa mereka dari kesulitan yang dihadapi oleh mereka dalam kehidupan.

Namun, jika musibah dan kesulitan ditafsirkan dengan tafsiran yang sempurna, ianya tidak akan membuatkan seseorang putus-asa tetapi sebaliknya ia mampu memberi suatu kekuatan baru kepada seseorang, dalam menghadapi hari-hari yang mendatang.

Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud: Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: Kami beriman, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)? Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu daripada mereka, maka (dengan ujian yang demikian), nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang sebenar-benarnya beriman dan nyata pula apa yang diketahuiNya tentang orang-orang yang berdusta. (Al-Ankabut: 2-3)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, didapati bahawa, seseorang yang mengaku beriman, pasti akan diuji oleh Allah s.w.t., sehingga terbukti sama ada seseorang itu benar-benar beriman atau berdusta dalam mengaku beriman.

Dalam kitab-kitab hadis juga, banyak menukilkan tentang hadis-hadis yang menyebutkan tentang ujian Allah s.w.t. terhadap para hamba-Nya.

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Golongan yang paling kuat diuji dengan bala adalah golongan para Nabi, kemudian golongan yang mengikuti mereka dan seterusnya".

Rasulullah s.a.w. juga bersabda: "Sesungguhnya, jika Allah s.w.t. mencintai sesuatu kaum, maka mereka akan diuji. Andainya mereka redha dengan ujian tersebut, maka baginya keredhaan Allah s.w.t…"

Jika kita lihat dalam lipatan sejarah, kita dapati bahawa, Rasulullah s.a.w. yang merupakan manusia yang paling dikasihi Allah s.w.t. sendiri, diuji dengan pelbagai ujian, termasuklah dibaling dengan batu, dilempar dengan najis dan kotoran, dan sebagainya. Begitu juga dengan para Nabi yang lain, seperti Nabi Zakaria a.s., Nabi Yahya a.s., Nabi Ayub a.s., dan selain dari mereka.

Persoalannya, apakah rahsia di sebalik ujian-ujian Allah s.w.t. terhadap para kekasih-Nya?

Rahsia Umum di Sebalik Musibah dari Allah s.w.t.

Para sufi dan ahli makrifah telahpun menjelaskan kepada kita, hakikat sebenar di sebalik ujian-ujian dan musibah yang menimpa seseorang muslim.

Secara umumnya, Allah s.w.t. menimpakan bala dan musibah kepada seseorang kerana tiga sebab, sesuai dengan jenis orang yang ditimpa musibah tersebut.

Pertama: Andainya Allah s.w.t. menimpakan musibah dan bala kepada golongan musuh Allah s.w.t., dan golongan yang bersikap sombong dengan Allah s.w.t., dari kalangan orang-orang kafir dan golongan fasiq, maka ia merupakan suatu bentuk azab dan siksaan dari Allah s.w.t. yang dikenakan kepada mereka di dunia lagi.

Kedua: Andainya Allah s.w.t. menurunkan musibah kepada orang-orang mu'min yang kurang beradab di hadapan Allah s.w.t., dengan melakukan pelbagai maksiat, maka ia merupakan peringatan buat mereka supaya mereka kembali kepada Allah s.w.t., dan kembali beradab di hadrat Ilahi s.w.t. dengan mengamalkan segala suruhan dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ia merupakan suatu kenikmatan dalam kesulitan.

Ketiga: Andainya Allah s.w.t. memberi musibah kepada golongan khawas (orang-orang soleh) atau golongan khawasul-khawas di kalangan hamba-Nya, yang sentiasa menjaga adab dengan Allah s.w.t., maka musibah tersebut merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjat mereka di sisi Allah s.w.t., dengan kesabaran mereka.

Ujian dan Musibah dalam Kaca Mata Sufi

Adapun para sufi menegaskan bahawa, ujian dan musibah merupakan suatu "ta'aruf" atau perkenalan dari Allah s.w.t., di mana setiap kali Allah s.w.t. menguji seseorang hamba tersebut, bererti Dia memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya disamping menilai bagaimana hamba tersebut memperkenalkan dirinya kepada-Nya.

Ujian dari Allah s.w.t. ada dua jenis iaitu:

Pertama: Ujian berbentuk Musibah. Ujian ini merupakan suatu bentuk kesusahan yang ditimpakan ke atas manusia seperti kematian, kehilangan, kemiskinan, kesakitan dan sebagianya.

Dalam bentuk ujian ini, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya dengan sifat-sifat jalal-Nya (sifat-sifat keagungan-Nya) di mana pada ketika itu, hamba-hamba-Nya akan mendapati bahawa, Allah s.w.t. Maha Berkuasa dan hanya kepada Allahlah, tempat mengadu segala masalah, kerana hanya Dialah yang Maha Membantu dan sebaik-baik Penolong.

Dalam kondisi ini, seseorang hamba yang jujur dalam Ubudiyahnya (pengabdiannya) akan memperkenalkan dirinya kepada Allah s.w.t., sebagai seorang hamba-Nya yang sabar. Maka, ketika diuji dengan musibah, seseorang hamba dapat meningkatkan darjatnya di sisi Allah s.w.t. dengan kesabarannya, di mana setiap kali dia sabar dalam ujian, maka setingkat demi setingkat darjatnya semakin meningkat di sisi Allah s.w.t., di samping mendapat keredhaan Allah s.w.t. dengan izin-Nya..

Di samping itu juga, seseorang hamba yang diuji dengan musibah, perlu redho dengan setiap suratan dan ketentuan Allah s.w.t., yang menimpanya, dan sebagai balasan, Allah s.w.t. juga akan meredhai hamba-Nya yang redha dengan ketetapan-Nya, dengan izin Allah s.w.t..

Hamba yang diuji dengan musibah juga perlulah sentiasa merenung diri sendiri, dan bermuhasabah, kerana boleh jadi, musibah tersebut merupakan natijah dari dosa-dosa dan maksiat yang dikerjakannya, di samping bertaubat dari sebarang kesilapan dan dosa. Inilah adab seseorang hamba yang sentiasa merendahkan dirinya di hadapan Allah s.w.t.

Kedua: Ujian berbentuk Kesenangan. Allah s.w.t. juga turut menguji para hamba-Nya dengan nikmat kesenangan, seperti kekayaan, banyak zuriat, kedudukan, dan sebagainya.

Dalam ujian berbentuk kesenangan tersebut, Allah s.w.t. memperkenalkan diri-Nya kepada hama-hamba-Nya yang mendapat kesenangan tersebut, dengan sifat-sifat Jamal-Nya (sifat-sifat kecantikkan dan keindahan-Nya), di mana hamba-hamba-Nya akan dapati pada kondisi tersebut, bahawa mereka mempunyai Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Adapun hamba-hamba yang menerima kesenangan pula, hendaklah baginya memperkenalkan diri mereka sebagai hamba-hamba yang bersyukur, kerana dalam keadaan kesenangan, kesyukuran merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjatnya di sisi Allah s.w.t.. Mereka hendaklah sentiasa mengingati bahawa, setiap nikmat tersebut datang dari Allah s.w.t., dan tidak lupa diri, dengan menyangka bahawa, merekalah sebenarnya yang menyebabkan kesenangan tersebut, kerana ia merupakan sikap biadab di hadapan Allah s.w.t.

Hamba-hamba yang dianugerahkan nikmat hendaklah berterima kasih kepada Allah s.w.t., di samping tidak merasa bangga dengan apa yang diterimanya. Mereka juga perlulah mengingatkan diri mereka, bahawa, boleh jadi nikmat yang Allah s.w.t. berikan kepada mereka merupakan suatu istidraj (tipu daya yang menyebabkan seseorang lebih jauh dari Allah s.w.t.) supaya mereka sentiasa meminta ampun dari Allah s.w.t. dan bersikap merendah diri di hadapan Allah s.w.t.

Apabila seseorang hamba itu berterima kasih, maka Allah s.w.t. akan meningkatkan darjat dan kedudukannya di sisi-Nya, di samping menambahkan lagi kenikmatan-kenikmatan yang telahpun diperolehinya.

Kesimpulannya, seluruh yang berlaku dalam kehidupan manusia merupakan ujian dari Allah s.w.t., samada dalam bentuk kesenangan atau dalam bentuk musibah. Apa yang penting, seseorang hamba yang memahami rahsia di sebalik ujian tersebut, maka dia perlulah sentiasa beradab dengan Allah s.w.t., sama ada di waktu susah atau senang, dengan kesabaran dan kesyukuran, kerana ianya merupakan pintu-pintu untuk meningkatkan darjat seseorang hamba di sisi Allah s.w.t..

Friday, January 7, 2011

Mengadu Kepada ALLAH

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Manusia itu sentiasa ada tempat untuk mengadu. Tidak kira dimana dirinya berada. Mengadulah..

Apabila hati kita dilanda keresahan, kebimbangan dan kegusaran, pasti kita akan mencari tempat untuk mengadu akan apa yang kita rasakan. Tujuan mengadu itu adalah untuk kita berkongsi rasa dan perasaan. Mengadu itu membuatkan kita merasa tidak bersendirian. Kerana kita yakin, ada orang lain yang mendengar segala rasa didalam jiwa. Walaupun mungkin ada yang tidak faham.

Lega rasanya.

Tetapi, sering kali juga kita sebagai manusia lupa mengadu kepada DIA yang menyebabkan segala apa yang telah kita rasai. Semua perasaan itu, adalah datang daripada Dia. Oleh kerana kelemahan manusia itu sendiri, selalu sahaja manusia membelakangkan Dia yang sedia untuk Mendengar setiap masa.

Manusia sentiasa ada tempat untuk mengadu.

Manusia Memang Sering Mengadu

Saya teringat semasa berada di sekolah rendah dahulu. Suatu hari tu, saya kena rotan oleh guru saya atas perkara yang saya tidak lakukan. Tangan saya dirotan sebanyak tiga kali. Jumlahnya sikit, tapi cukup berbisa. Sehinggakan saya merasa tapak tangan saya melekit-lekit.

Tamat waktu sekolah saya balik ke rumah. Sampai sahaja di rumah, saya mengadu pada Bonda. Tidak pasti mengadu kerana kesakitankah atau mengadu kerana perasaan sedih. Apa yang saya ingat waktu itu Bonda memarahi saya daripada bertindak membela anaknya seorang ini.

“Baguslah.. Nanti suruh cikgu rotan lagi,” kata Bonda sambil memandang tepat ke arah saya.

Bicara Bonda tidak saya hiraukan. Tapi saya sudah puas berkongsi apa yang ada dalam hati saya walaupun tidak mendapat pembelaan. Hehe.

Maka, begitu jugalah manusia yang lainnya. Manusia ini antara salah satu sifatnya adalah lemah. Dan apabila berasa lemah, manusia akan mengadu kepada sesiapa yang diingini oleh hatinya agar dia merasa senang dan fikirannya sedikit lapang.

Mengadu kepada sahabat, ibu bapa, adik beradik dan insan lain.

Apabila ditimpa masalah, dan keserabutan fikiran itu tidak dapat kita tampung lagi secara bersendirian, secara automatiknya kita akan mencari seseorang yang boleh dipercayai untuk berkongsi masalah itu. Itu lumrah bagi manusia.

Anda begitu? Saya pun, begitu juga.

Apabila sahabat-sahabat saya datang mengadu kepada saya, berkongsi masalah mahupun kegembiraan, saya akan cuba raih sebaik mungkin. Saya berasa senang dapat berkongsi apa yang berlaku dalam hidup mereka. Saya tidak merasa terbeban. Ensha ALLAH, jika saya dapat memberikan sedikit pendapat, maka saya akan berikan. Jika tidak, saya lebih memilih untuk diam mendengar masalah mereka.

Nah. Saya terfikir di sini.

Manusia seringkali mencari manusia untuk mengadu segala masalah yang dia hadapi. Adakah itu salah? Tidak. Bahkan itu fitrah. Tetapi, seringkali manusia akan mengadu kepada manusia tanpa terlebih dahulu mengadu kepada Tuan Punya Dunia.

Salahkah? Tidak. Tetapi kurang sopan.

ALLAH Sedia Mendengar Pengaduan Hamba-Nya

Kenapa saya katakan kurang sopan? Kalau ada yang tidak bersetuju, saya memohon maaf.

Apabila mengadu kepada manusia terlebih dahulu tanpa kembali kepada ALLAH, bagi saya itu kurang sopan. Kerana apa? Kerana ALLAH itu sentiasa memerhatikan kita dan sentiasa Maha Tahu akan setiap apa yang berlaku kepada kita. Tetapi, kita pergi mencari tempat lain untuk mengadu terlebih dahulu. Dan apabila perasaan itu sudah reda, barulah kita akan datang kepada ALLAH.

Pengaduan kepada ALLAH tidak memerlukan tempat yang spesifik. Anda boleh mengadu secara berjalan, duduk mahupun baring, hatta tengah berlari sekalipun. Sebaliknya mengadu kepada manusia, anda perlu mencari suasana yang bertepatan dengan mood anda waktu itu.

ALLAHuakbar.

Kita sering Terlupa ALLAH dalam hidup kita, kan. Saya akuinya.

Anda tahu, di dalam sebuah Hadis Qudsi, pernah diceritakan bahawa apabila seorang hamba berdoa disertai dengan tangisan, maka ALLAH akan memberitahu dan menyuruh malaikat untuk menangguhkan permintaannya. Kerana apa? Kerana kata ALLAH, ALLAH rindu pada pengaduan yang bersungguh-sungguh seperti itu.

ALLAH rindu, wahai sahabat sekalian.

Subhanallah.

Hakikat Seorang Manusia

Hakikat yang perlu kita terima dan akui sebagai seorang manusia adalah, kita ini sering melupakan ALLAH SWT dalam hidup kita. Bahkan, tidak keterlaluan saya katakan, bahawa kita ini ada masa hanya mengingati ALLAH pada masa-masa yang tertentu.

Allahuakbar. Lemahnya kita.

Begitu juga dengan hal mengadu. ALLAH tidak larang kita berkongsi rasa kepada manusia. Tetapi sebaiknya, kita mengadulah terlebih dahulu kepada ALLAH. Kerana, hanya ALLAH yang Maha Memahami akan keadaan kita sedari kecil sehinggalah dewasa.

Sahabat, berbicara dengan ALLAH itu lain perasaan.

Apa perasaan itu? PUAS. Ya, kepuasan.

Mari, Mengadu Kepada ALLAH

Hei sahabat. Saya juga masih bertatih. Maka, mari duduk bersama saya. Kita sama-sama mengadu kepada ALLAH. Apabila sudah tenang dan kita memerlukan nasihat daripada seorang manusia, maka carilah seseorang untuk memberi nasihat kepada anda.

Saya sedia menjadi pendengar setia.

Dan saya harap anda juga begitu. Boleh mendengar masalah saya.

Kita saling bantu-membantu.

Yang penting, kita berusaha untuk memaksimumkan ingatan kita terhadap ALLAH!

ALLAH itu, sentiasa ada di ‘sana’ untuk mendengar pengaduan dari kita, hamba-Nya. Apabila kita mengadu, bukan ALLAH tidak pernah memberikan tindakbalas. Sebaliknya, ALLAH mendengar pengaduan kita itu dengan mencampakkan ketenangan ke dalam hati kita walaupun kita tidak melihat wajah ALLAH SWT.

Anda tidak yakin? Nah, bacalah kalam ALLAH ini,

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar terhadap-Ku. Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan solat. Sungguh, ALLAH berserta dengan orang-orang yang sabar.” – al Baqarah : 152 – 153

Ingin mengadu? ALLAH sentiasa ada dengan kamu.

Semoga ALLAH merahmati.