Tuesday, December 21, 2010

HATI MERUPAKAN RADAR AJAIB? SEJAK BILA HATI MENJADI RADAR??

Pernahkah anda rasa berdebar-debar, gelisah, tidak tenteram, tidak sedap hati dan sebagainya? Semua fenomena itu sebenarnya adalah isyarat yang dipancarkan oleh hati seseorang bahawa ada sesuatu yang menjadi ancaman kepada diri manusia dan ianya dapat dikesan oleh hati.

Sabda Rasullulah s.a.w: 'Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya. Tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan adalah hati.'

Hati adalah ibarat raja bagi tubuh badan manusia. Di sinilah tersimpan tenaga yang hebat seperti pemikiran dan tenaga emosi. Jika hati seseorang itu diisi dengan sifat mahmudah(baik) maka hebatlah seluruh anggota badannya dan akan melahirkan seseorang yang berakhlak mulia. Jika hati telah dikotori dengan sifat mazmumah(keji) maka rosaklah peribadi dan akhlak seseorang itu.

Hati adalah radar yang hebat untuk mengesan perbuatan manusia, sama ada mengesan perkara yang baik atau buruk. Apabila kita melakukan perbuatan yang berdosa, kita akan mudah untuk rasa berdebar-debar dan cemas. Seterusnya ia akan menyebabkan kita rasa gelisah dan tertekan.

Isyarat ini sebenarnya bertujuan untuk menyuruh supaya seseorang untuk kembali pada Allah. Apabila kita memohon keampunan dan bertaubat maka hati kita akan kembali tenang. Hati yang berpenyakit dari segi batin perlu dirawat seberapa segera kerana ianya bukan sahaja memberikan kemudaratan pada ketenteraman jiwa malah boleh menyebabkan penyakit pada anggota badan.

BAGAIMANA HATI MENDAPAT TENAGA DAN KEKUATAN?

Makanan hati adalah taqwa kepada Allah.Zikir, membaca Al-Quran, menuntut ilmu agama, memberi zakat, bersedekah dan berbaik sangka adalah makanan hati yang enak dan lazat. Jika hati tidak diberi makan, maka seseorang itu akan menghidap penyakit batin dan zahir.Dengan cara memberikan makanan pada hati,barulah seseorang berhak untuk memperolehi kebahagiaan.

Apakah cara untuk merawat hati yang berpenyakit dan menghidupkan hati yang mati?

Caranya ialah dengan bertaubat. Meminta keampunan, mengingati kematian dan sentiasa melakukan amal kebajikan.Ini akan memulihkan dan menghidupkan semula hati.

Hanya dengan mengingati Allah seperti dalam firman Allah;

'(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.' (Ar-Ra'd :28)

Apabila hati kita mendustakan ayat-ayat Allah maka termasuklah kita dalam kategori hati yang berpenyakit sepertimana firmanNya;

'Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.' (Al-Baqarah:10)

Oleh itu,apabila hati kita mengesan sesuatu yang tidak menyenangkan maka marilah kita segera kembali kepada Allah sebelum hati kita menjadi keras.Ingatlah pesananNya yang bermaksud:

'Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.'(Al-Hadid:16)

Wassalam..

Merawat dan Memelihara Hati Yang Bersih


Untuk merawat hati yang sudah bercahaya dan memperindahnya maka seseorang perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu ini, dengki, riya, takabbur dan cobaan dijalani dengan ikhlas. Perumpamaan hal ini adalah seorang ibu hamil yang selalu ikhlas menahan sakit, lemah tanpa pamrih demi mengandung anak yang ia cintai. Maka jika kita mencintai permata (hati kita) maka kita harus merawatnya terus-menerus.

Al-Ghazali mendefenisikan hati manusia menjadi tiga bentuk, yaitu: hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Hati yang sehat akan berfungsi optimal, mampu memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk. Hati mereka kenal betul dengan Allah, sifat, af'al, kasih sayang, janji, qudrah, sunnah dan kemulian-Nya.

Kondisi hati ini akan selalu bersyukur atas nikmat, sabar dan ridha akan taqdir dan cobaan yang diberikan-Nya. Hati yang mampu berma'rifat (mengenal Allah) ini adalah salah satu yang menjadikan manusia lebih ungul dari makhluk lainnya.

Dalam bab ini juga dibahas tentang Qalbun Salim (hati yang selamat) yakni hati yang istiqamah dan mampu menetapi kebaikan berbalik hanya pada kebaikan saja seperti yang disinggung Nabi SAW dalam do'anya yang bersabda; "Hai yang membolak balikkan hati tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu dan taat pada-Mu'. Mengenai hal ini Allah juga berfirman: Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim) (QS. 26, as-Syura: 88-89).

Hati yang bening inilah yang mampu menjaga prilakunya, menahan pandangannya, menjaga lisan, perut dan mampu memilih pergaulan yang baik. Hati menjadi suci dan bening karena tidak ada tingkah laku yang mengotorinya, ingatnya selalu pada Allah, istiqamahnya terus-menerus tanpa henti, da'wahnya ikhlas tanpa pamrih dan seterusnya.

Mengenai pentingnya menjaga mata Nabi SAW bersabda: "Pandangan itu salah satu panah dari panah iblis yang berbisa. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang terasa sangat manis di dalam hati. (HR. al-hakim).

Mengenai menjaga lisan Nabi SAW bersabda: "Setiap ucapan bani adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan) dan zikrullah. (HR. Tirmidzi). Demikianlah seterusnya.

Hati adalah pusat kebaikan dan kejahatan. Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani untuk berbuat baik atau jahat. Oleh karena itu bersihkanlah ia, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang. bersinar dan bercahaya serta mudahnya berbalik terus dalam kebaikan dan taqwa.

Adapun langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah: Pertama, Mencari ilmu hati yakni ilmu yang bermanfaat untuk membersihkan hati, bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Kedua, Membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (takhalli). Ketiga, mengisi hati dengan sifat-sifat terpuji yang dimulai dari sifat zuhud (tidak berambisi dan mengejar kesenangan hawa nafsu di dunia saja) dan mujahadah atau bersungguh-sungguh menuju Allah dalam istilah al-Ghazali dan Keempat, Istiqamah dan berdo'a agar hati tetap bersih, bening, bercahaya dan hanya berbalik dalam dan untuk kebaikan saja.

Mengatakan dan menjelaskan hal ini tidak semudah mengamalkan dan oleh karena itu marilah sama-sama kita berusaha dan bekerja keras untuk membersihkan, mengisi dan membeningkan hati dengan cara-cara yang disebutkan di atas karena hatilah satu-satunya penentu kita menjadi dan dipandang baik atau buruk. Wallahu a'lam

Friday, December 17, 2010

"Saudari, Masih Sempat Untuk Menutup Aurat"

"Saudari, Masih Sempat Untuk Menutup Aurat"

Saya tahu mesej dakwah tentang penjagaan aurat sudah terlalu banyak di mana-mana, dalam pelbagai bentuk dan dalam pelbagai ragam. Semuanya baik-baik belaka. Saya yakin ramai di antara kita tahu hukum menutup aurat itu wajib secara syari'e.

Tetapi, sedihnya masih ramai juga lagi yang tidak menutup aurat. Lihatlah di jalanan. Sebab itu saya sengaja ingin menyelit untuk menambah, sekadar perkongsian tambahan daripada diri yang tidak seberapa ini.

Perintah Menutup Aurat

Berkenaan aurat wanita, bukankah telah jelas disebut di dalam Al-Quran:

"Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin semua hendaklah mereka melabuhkan jilbab-jilbab atas mereka. Yang demikian itu lebih memastikan mereka agar dikenali (sebagai wanita Islam) supaya mereka tidak diganggu" (Al-Ahzab:59)

Ustaz Zaharuddin (www.zaharuddin.net) telah menjelaskan di dalam lamannya, bahawa jilbab ialah pakaian longgar semacam baju kurung. Allah memerintahkan agar ianya dilabuhkan kecuali apa yang terzahir:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

"..Dan janganlah mereka mendedahkan perhiasan mereka kecuali apa yang zahir daripadanya, dan hendaklah mereka melabuhkan tudungnya sampai ke dadanya..." (An-Nur:31)

Sekali lagi saya mengambil dan meringkaskan ulasan Ustaz Zaharuddin melalui lamannya. Apa yang disebutkan sebagai "zahir" dalam ayat ini diperselisihkan 'ulama. Ada yang berpendapat yang zahir adalah muka dan tapak tangan sedangkan ada yang lebih tegas daripada itu (muka dan tangan pun aurat). Apa yang pasti, khumur (خمر) dalam ayat di atas ini bermaksud tudung dan juyub (جيوب) adalah jamak (plural) bagi perkataan jaibun (جيب), iaitu bermaksud belahan dada yang terbuka.

Ertinya, ayat nombor 31 daripada surah An-Nur ini menjelaskan akan wajibnya tudung yang dipakai untuk menutup kepala dan rambut itu dilabuhkan sampai menutupi dada. Ada banyak lagi dalil Al-Quran dan As-Sunnah berkaitan perintah menutup aurat serta adab berpakaian bagi wanita, tetapi saya tidak bangkitkannya di sini untuk memendekkan bicara. Anda boleh mencarinya sendiri.

Layakkah Kita Melawan PerintahNya?

Baik, perintah menutup aurat dengan sempurna itu terlalu jelas. Lantas apa sebabnya seseorang tidak mahu mematuhi perintah ini? Bukankah Allah ta'ala telah berfirman:

"Sesungguhnya Al-Quran itu memberi petunjuk ke jalan yang lurus." (Al-Israk:9)

Bukankah berat padahnya jika kita meninggalkan perintah Allah ta'ala?

"Sesiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak sesat dan celaka. Dan sesiapa yang berpaling daripada peringatanKu maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (Taha: 123-124)

Saya faham, bukan mudah menutup aurat. Menurut Sahabat saya dia boleh terasa panas benar bahangnya di siang hari walaupun tidak perlu memakai tudung dan berbaju labuh. Bagaimana agaknya perasaan muslimah yang bertudung? Apatah bagi mereka yang bertudung litup, masyaAllah. Sebab itu saya sangat kagum terhadap wanita muslimah yang bersungguh-sungguh untuk menutup aurat dengan sempurna. Serius saya katakan, ini bukan mudah, tetapi apa yang diwajibkan Allah mesti ditunaikan jua. Inilah contoh para mujahidah sejati.

Doa saya agar Allah mengganjarkan semua muslimah yang bermujahadah demi agamanya, kebahagiaan dan kebaikan serta rahmat yang melimpah-ruah, di dunia dan akhirat. Amin.

Tetapi, sayangnya masih ada juga wanita muslimah yang tidak bertudung dan mendedahkan aurat. Ada juga yang bertudung, itu sudah bagus, tetapi sayang masih nampak bentuk susuk tubuhnya, terdedah dadanya, nampak lengannya, terlihat sanggulnya, nampak lehernya, terlihat kakinya yang tidak berstokin atau lain-lain. Aurat mereka sebenarnya masih belum ditutup dengan sempurna.

Saya harap ini berlaku sebab mereka tidak tahu hukumnya, bukannya sengaja.

Ramai yang mengaku bahawa mereka tersilap dan cuba hendak berubah, silakan, semoga Allah merahmati. Tapi, ada juga yang memberi alasan, cuba berdolak-dalih mengetengahkan isu lain; mereka seakan tidak sedar bahawa agama ini tidak boleh dibina atas akal, falsafah ataupun humanisme. Agama ini dibina atas dalil dan bukti, di mana semuanya jelas menunjukkan wajibnya menutup aurat.

Membuka aurat, atau tidak menutupnya dengan sempurna sepertimana yang diperintahkan syarak, adalah haram hukumnya. Muktamad.

Sayang sekali, kalau kita sudah menjaga kefardhuan solat dan kewajiban-kewajiban lain dengan baik, tetapi kita mengingkari perintahNya dalam hal yang lain pula. Kenapa mengamalkan Islam sekerat-sekerat? Memilih perintah Allah mengikut kesedapan hati. Ikut apa yang disukai diri dan menolak yang tidak disukai. Mana boleh begini. Apakah kita lupa apa yang kita tolak itu adalah perintah langsung daripada Allah azza wajal? Wa'iyadzubillah.

Kenapa kita berani memilih-milih dalam beramal, sedangkan kita diperintahkan untuk mematuhi perintah Allah secara serba-serbi?

"Wahai orang-orang beriman, masuklah Islam dengan keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh nyata bagi kamu" (Al-Baqarah:208)

Adakah kita lupa kita ini hanyalah hambaNya? Adakah kita lupa kita dihidupkan untuk menyembah dan mematuhi perintahNya?

Jika berbuat silap sesama manusia atau melanggar undang-undang duniawi, apabila sudah dibalas dengan adil, dihukum atau diselesaikan segalanya di dunia, di akhirat nanti ianya sudah terlangsai, tutup kes EnshaAllah. Tapi jika mengingkari Allah, ini hal besar. Di akhirat nanti baru perbicaraannya akan bermula.

Itulah hari didedahkan segala amalan, sama ada yang baik mahupun yang aib (Yaum al-Taghaabun, يوم التغابن). Ketika itu terpinga-pingalah dan tersangat takutlah para pendosa, mulut mereka dikunci sementara tangan dan anggota-anggota badan boleh bersuara menjadi saksi atas segala kemungkaran dan aurat yang pernah didedahkan semasa hidup di dunia. Allah Maha Berkuasa atas semua ini.

"Pada waktu itu Kami meteraikan mulut mereka (sejurus); dan (memberi peluang kepada) tangan-tangan mereka memberitahu Kami (kesalahan masing-masing), dan kaki mereka pula menjadi saksi tentang apa yang telah mereka telah usahakan." (Yasin:65)

Peringatan tentang peristiwa-peristiwa ghaib selepas kematian, baik melalui Quran mahupun Sunnah memang banyak, tetapi kemungkaran masih tetap berlaku. Agaknya bila sudah nampak alam akhirat dengan mata sendiri barulah hendak menqadah, menyesal, menangis, menyembam muka, pujuk-rayu mohon diberi peluang kedua atau tidak kisahlah apa pun, malangnya semuanya tidak berguna lagi. Good bye.

Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni kita semua.

Pintu Taubat Masih Terbuka Seluas-Luasnya

Maaf sekiranya apa yang ditulis ada terkasar atau menyinggung hati. Niat saya hanya ingin menyampaikan yang haq, mengingatkan tentang apa yang pasti terjadi, untuk muhasabah diri saya dan seterusnya kepada anda semua. Mesej ini tidak tertuju kepada sesiapa langsung. Ini nasihat umum.

Sesungguhnya manusia memang makhluk yang banyak silapnya, cepat terlalai, cepat terlupa, banyak alasannya dan banyak helahnya. Tapi Allah sentiasa beri peluang kepada kita agar bertaubat jika berbuat silap selagi mana hayat masih ada. Ini bonus istimewa, sepatutnya kita banyakkan bersyukur. Betapa Pengasihnya Allah. Betapa sayangnya Allah kepada hamba-hambaNya. Betapa sayangnya Allah kepada kita

Justeru sungguh kurang cerdiknya orang-orang yang tidak mahu menyahut peluang bertaubat yang sentiasa terbuka luas ini, sedangkan ajalnya semakin hari semakin dekat. Tidakkah kita risau, sewaktu nyawa dicabut, kita sedang berada dalam keadaan mengingkari perintahNya?

Lupakah kita maut itu boleh datang pada bila-bila masa?

Semoga Allah membantu kita semua agar dapat bertaubat, menyesal lantas terus gigih bermujahadah dan beristiqamah dalam mentaati Allah dan RasulNya. Amin.

Wallahu a'lam.

Saturday, December 4, 2010

MENGHAYATI KONSEP HIJRAH


Awal Muharam atau Maal Hijrah bukanlah perkara asing bagi seluruh umat Islam. Peristiwa ini cukup signifikan dalam konteks memacu kemajuan ummah menghadapi cabaran-cabaran dalam pelbagai bidang.

Tanpa penghayatan dan memahami konteks hijrah masa kini, akan mengundang episod kegagalan kepada umat Islam sendiri.

Persoalannya berapa ramai daripada kita yang benar-benar menghayati falsafah dan sejarah di sebalik peristiwa tersebut?

Secara umumnya perayaan 1 Muharam ini merujuk kepada peristiwa agung sejarah hijrah (perpindahan) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para pengikutnya dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masihi.

Tarikh ini menjadi sebahagian daripada hari memperingati di dalam kalendar Islam kerana ia merupakan titik tolak kepada era pergerakan dakwah Islamiah yang disebarkan oleh Rasulullah SAW ke seluruh pelosok dunia. Hasilnya sehingga ke hari ini Islam menjadi salah satu agama terbesar dunia dengan jumlah seramai lebih 1.3 bilion atau satu per lima daripada penduduk dunia.

Perjalanan yang menempuh pelbagai cabaran ini bukanlah semata-mata kerana takutkan ancaman dan asakan daripada kaum kafir Quraisy tetapi menjadi strategi Nabi Muhammad SAW sendiri untuk melalukan transformasi dakwahnya dan juga menjadi sebahagian ujian bagi umat Islam. Ia tidak akan berjaya tanpa perancangan bijak, teliti dan penuh berhati-hati. Ia juga tidak akan berjaya tanpa sifat pengorbanan untuk keluar dari tanah air sendiri semata-mata untuk memperjuangkan atas nama Islam.

Hijrah juga akan gagal sekiranya umat Islam tidak bersatu padu, sentiasa bertelagah, mencari kesalahan dan hanya tahu mengkritik sahaja. Maknanya perpecahan hanya mengundang kegagalan dalam apa jua matlamat yang hendak dicapai lebih- lebih lagi melibatkan soal survival ummah.

Jelas betapa hebatnya hijrah tersebut yang bukan hanya berfokuskan semata-mata menyampaikan dakwah tetapi Baginda SAW berjaya mendirikan daulah (negara) Islam Madinah yang lengkap melalui pakatan murni atau kontrak sosial yang dimeterai dalam Perlembagaan Madinah. Ahli sejarah menganggap ia adalah satu perlembagaan bertulis yang pertama di dunia.

Daripada hanya sebuah agama kecil akhirnya berkembang menjadi agama terbesar dunia. Daripada kelompok minoriti yang lemah menjadi majoriti yang perkasa dalam pelbagai bidang. Daripada umat yang lemah dan dihina beranjak kepada umat terbilang yang penuh penciptaan ketamadunan. Daripada bangsa yang jahil dan zalim menjadi bangsa berilmu dan beradab. Itulah hasil perubahan yang tercetus hanya kerana hijrah.

Strategi dan pelan tindakan hijrah berkait rapat dengan bukti yang menunjukkan betapa lemahnya usaha manusia untuk menghancurkan Islam. Ini dapat dibuktikan dengan dalil daripada firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan ketika kaum kafir merancang untuk memenjarakan engkau, membunuh engkau atau mengusir engkau – mereka merancang dan Allah juga merancang. Dan Allah adalah sebaik-baik perancang.” (Al-Anfaal:30)

Keyakinan

Ayat tersebut antara lain menjadi kata perangsang kepada Nabi SAW dan umat Islam agar tidak takut dengan ancaman orang kafir kerana Allah SWT mengatasi segala perlakuan mereka. Namun begitu asas pertolongan Allah bukan diberikan dengan percuma, tanpa usaha dan ikhtiar yang bijak tetapi disertai dengan tahap keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT yang cukup hebat.

Ketika umat Islam dilanda dengan pelbagai konflik dari sudut politik tanah air dan cengkaman kemiskinan yang sangat ganas, kita memerlukan satu anjakan untuk turut serta berhijrah dalam konteks pemikiran masa kini. Jangan hanya sekadar retorik dan berbangga dengan pencapaian keunggulan Islam pada zaman lampau. Malah kita harus bertanya apakah kita sekarang benar-benar dapat memastikan keunggulan Islam dinikmati untuk generasi akan datang dengan pencapaian kita selama ini?

Hijrah bukanlah bermakna kita menjadi pelarian atau orang buangan dalam konteks hari ini. Skeptikal dan salah tanggapan itu sangat menyimpang daripada kehebatan hijrah itu sendiri. Dalam dunia kejahilan kaum kafir yang bersandarkan ideologi manusia semata-mata, kita menolak dakwaan bahawa umat Islam sentiasa mencari arah perlindungan kuasa besar yang lain atau menjadi pelarian ke negara-negara lain semata-mata untuk menyelamatkan diri.

Kita tidak mengiktiraf pakatan jahat kafir Quraisy yang beria-ia hendak memburu dan menamatkan riwayat Nabi Muhammad SAW ini kerana ia sangat bertentang dengan kebebasan hak asasi manusia yang tidak boleh dibunuh tanpa melalui sistem perundangan yang sah. Ia juga melambangkan betapa era kejahilan sangat berkuasa pada zaman dahulu yang menghuru-harakan sistem sosial manusia kerana tidak mempunyai panduan daripada wahyu.

Nabi Muhammad SAW tidak berdiam diri dan hanya menyerahkan kepada takdir semata-mata tanpa melakukan urusan dakwahnya dengan menggunakan metodologi yang sangat efektif.

Apa pula strategi kita untuk terus menghadapi cabaran hari ini yang jauh lebih kompleks. Sering kali terpapar di dalam media bagaimana tragisnya kehidupan ummah yang penuh dengan kesengsaraan, kemiskinan, kedangkalan ilmu, kelemahan pencapaian ekonomi dan lebih menakutkan ialah peperangan saudara yang melahirkan lebih ramai pelarian.

Di samping memastikan aspek keselamatan dan keamanan negara-negara yang didiami oleh umat Islam, kita harus meletakkan visi dan misi yang sarat dengan kebijaksanaan agar tidak kecundang di pertengahan jalan. Ia sangat menuntut kepada perpaduan dan menjauhi pertelingkahan, tuduhan melulu dan membuang perasaan iri hati sesama kita semua.

Gantikanlah dengan semangat muhibah, toleransi, keazaman murni dan perilaku yang terbaik melambangkan keunggulan jati diri umat Islam melalui pelbagai bidang seperti pendidikan, penerokaan sains, kepesatan ekonomi negara dan kestabilan politik. Pastinya angka ini semakin bertambah dari semasa ke semasa hasil daripada usaha- usaha ke arah memartabatkan umat Islam dalam pelbagai lapangan kehidupan.

Semoga mulai saat ini berazamlah kita semua agar tiada lagi masalah yang melanda umat Islam. Tiada lagi label keganasan yang dikaitkan dengan umat Islam, tiada kemiskinan yang menghambat negara-negara Islam, tiada lagi kepincangan sosial yang negatif, tiada lagi kedengaran semboyan peperangan.